Kata Pengantar
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT atas
segala limpahan nikmat dan karunia-Nya berupa rahmat, hidayah, dan inayah-Nya
serta kesehatan kepada kepada kita, khususnya kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat dan salam semoga tetap
tercurahkan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Al-Ustadz Dr. M.
Miftahul Ulum yang telah membimbing penulis dalam mata perkuliahan Pemikiran Pendidikan Islam Modern (PPIM).
Tidak terlupa, ucapan terima kasih kepada teman-teman Tarbiyah jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester 6 yang ikut serta menghiasi hari-hari
penulis dalam perkuliahan dan memotivasi penulis agar lebih memaknai hidup.
Penulis menyadari sepenuhnya, makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu, kritik, saran dan masukan yang konstruktif sangat penulis harapkan
dari berbagai kalangan demi perbaikannya ke depan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi seluruh pembaca, terutama bagi mahasiswa Tarbiyah jurusan
Pendidikan Agama Islam (PAI) dan bagi
penulis, semoga mendapat ridho Allah, sebagai amal shaleh dan menjadi ilmu yang
bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin
Ponorogo, 12
April 2014
Bab I
Pendahuluan
A.
Latar
Belakang
Berbicara pendidikan adalah
berbicara tentang keyakinan pandangan dan cita- cita tentang hidup dan
kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Sejarah pendidikan Indonesia
sesungguhnya sangat di warnai oleh peran maupun pengalaman umat Islam dalam
menampilkan pendidikannya. Kehadiran organisasi- organisasai Muhammadiyah atau
NU selalu menempatkan pendidikan sebagai basis sekaligus motor penggeraknya,
Berbagai jenjang pendidikan yang didirikan oleh organisasi Islam tersebut telah
memberikan andil besar dan merupakan wujud nyata dari apa yang sekarang
diharapkan sebagi usaha menuju “pendidikaan berbasis masyarakat”. (community
based education).
Tentu saja semua itu perlu adanya
reorientasi, sehingga hasilnya dapat mendukung proses gerakan reformasi menuju
Indonesia Baru “masyarakat madani”. Selain bertumpu pada tradisi dan nilai-nilai
keislaman dan keindonesiaannya, juga mampu membuka orientasinya pada bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi guna mewujudkan suatu peradaban global yang
modern dan religious. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa tokoh-tokoh
pergerakan Islam yang berkiprah di bidang pendidikan mampu berbuat untuk
kemajuan hari depannya. Reorientasi itu memang harus dilaksanakan terus menerus
dan berkesinambungan. Karena kalau berhenti berarti mati.
Oleh karena itu pelaku pendidikan
Islam dituntut segera melakukan reorientasi. Dalam hal yang bersifat normative
filosofis, reorientasi dilakukan dengan cara menguji ulang terhadap nuktah-
nuktah ilahiyah dalam Al- Qur’an yang berhubungan dengan persoalan pendidikan
seperti tentang manusia, ilmu, nilai yang berhubungan dengan tujuan pendidikan,
dan lain sebagainya.[1]
Pada sejarah awalnya pendidikan Islam pernah mencapai puncak kejayaannya.
Tetapi dalam realitas praktis sekarang, pelaksanaan pendidikan telah
berorientasi pada capaian-capaian kebendaan, hedonis, materialistik, sehingga
terjadinya kerusakan moral, erosi terhadap nilai-nilai keagamaan sebagai akibat
berorientasi pada Barat. Pola hidup seperti ini, tentunya sebuah tantangan
berat bagi pendidikan Islam yang berkarakteristik balancing antara kepentingan
dunia dan akhirat. Oleh karena itu, umat Islam masa kini dituntut untuk
melakukan gerakan reorientasi pemikiran pendidikan Islam untuk menuju sistem
ideal pendidikan Islam sehingga tercapai konseptual pendidikan Islam yang
berorientasi pada kebahagian dunia dan akhirat yaitu penggunaan nilai-nilai
Islam, sebagai sudut pandang secara menyeluruh mengenai persoalan-persoalan
yang berkaitan dengan gejala-gejala dalam pendidikan Islam dalam rangka
menyusun, mengembangkan, menemukan konstruk paradigma pendidikan yang berangkat
dari pandangan-pandangan dunia Islam.[2]
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu; bagaimana Orientasi Tujuan
Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era Globalisasi
C.
Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulis makalah ini adalah untuk
mengetahui Orientasi Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era
Globalisasi
Bab II
Pembahasan
Orientasi
Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era Globalisasi
Pengertian
Pendidikan
Istilah
pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhirnya
“kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya).[3]
Istilah pendidian ini berasal dari bahasa yunani, yaitu “paedagogie”, yang
berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian di
terjemahkan kedalam bahasa inggris dengan “education” yang berarti pengembangan
atau bimbingan. Dalam bahasa arab istilah ini sering di terjemahkan dengan
“tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam
perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang
diberikan dengan sengaja terhdap anak didik oleh orang dewasa. Dalam
perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seorang
atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang agar
menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan kehidupan yang lebih tinggi
dalam arti mental.[4]
Pengertian
Globalisasi
Menurut
wikipedia, “kata globalisasi di ambil dari kata global yang maknanya universal.
Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan kecuali sekitar definisi kerja
(working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.[5]
Dari perbedaan orang-orang memandang globalisasi maka muncullah masyarakat yang
menerima globalisasi (masyarakat pro-globalisasi) dan masyarakat yang menolak
globalisasi (masyarakat anti globalisasi).
Setiap
manusia tidak bisa terhindar dari arus globalisasi ini, kecuali dia tidak
menjalin kontak dengan orang lain, tidak melihat acara-acara di televisi, tidak
mendengarkan radio, dan dia hidup dengan apa adanya. Namun, hanya segelintir
manusia bisa melakukan hal seperti itu karena manusia mempunyai sifat makhluk
sosial yaitu selalu membutuhkan orang lain.
Globalisasi
berawal dari transportasi dan komunikasi. Tetapi dampaknya segera terasa dalam
berbagai bidang kehidupan manusia baik ekonomi, politik, perdagangan, gaya
hidup, bahkan agama”.[6] Begitu cepat masyarakat mengikuti
perkembangan zaman, mereka tidak mau ketinggalan sedikitpun dari perkembangan
ini. Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena
globalisasi di dunia.
Pengertian
Pendidikan Islam
Didalam
Islam ada dua istilah yang di pakai untuk pendidikan yaitu “tarbiyah” dan
“ta’dib”, kedua istilah ini mempunyai perbedaan yang mencolok.
Menurut
Naquib al-Atas tarbiyah secara semantic tidak khusus ditunjukan untuk mendidik manusia, tetapi
dapat ditunjukan kepada sepsies lain, seperti mineral, tanaman dan hewan.
Selain itu tarbiyah berkonotasi material; ia mengandung arti mengasuh, menanggung,
memberi makan, mengembangkan, memilihara, membesarkan, memproduksi hasil-hasil
yang sudah matang dan menjinakan. [7]
Adapun
ta’dib mengacu kepada engertian “ilm”, pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang
baik (tarbiyah). Dari itu ta’dib merupakan istilah yang paling cepat dan cermat
untuk menunjukan pendidikan dalam islam.[8]
Nampaknya Naquib melihat ta’dib sebagai sebuah system pendidikan islam yang di
dalamnya ada tiga sub system, yaitu pengetahuan, pengajaran dan pengasuhan
(tarbiyah). Jadi tarbiyah dalam konsep Naquib ini hanya satu sub system dari
ta’dib.
Tujuan
Pendidikan Islam
Menurut
Syaibany ada tiga macam tahap tujuan pendidikan, yaitu:
1.
Tujuan
tertinggi atau terakhir yaitu tujuan yang tidak diatasi oleh tujuan lain,
sekalipun bertingkat-tingkat dibawah tujuan lain yang kurang dekat dan kurang
umum daripadanya.
2.
Tujuan
‘am atau tujuan umum yaitu perubahan-perubahan yang dikehendaki yang diusahakan
untuk mencapainya.
3.
Tujan
khas atau khusus yaitu perubahan-perubahan yang diinginkan yang bersifat cabang
atau bagian-bagian yang termasuk dibawah tiap-tiap tujuan pendidikan.[9]
Pendidiakan
Islam juga mempunya tujuan yang terdiri sesuai dengan falsafah dan pandangan
hidup yang di gariskan Al-Qur’an.
Ibnu Khodun
menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam mempunyai dua tujuan, yaitu:
1.
Tujuan
keagamaan, maksudnya ialah beramal untuk akherat, sehingga ia menemui Tuhannya
dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan keatasnya.
2.
Tujuan
ilmiyah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan
modern dengan tujuan kemamfaatan atau periapan untuk hidup.
Selanjutnya
Al-Ghozali berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam yang paling utama ialah
beribadah dan taqarrub kepada Allah dan kesempurnaan insani yang
tujuannya kebahagiaan dunia dan akherat. [10]
Selain
dari pandangan yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghozali dan Ibnu Khaldun tentang
tujuan pendidikan Islam, terdapat para cendikiawan Islam dan ahli-ahli
pendidikan Islam yang lain membuat rumusan merekan masing-masing tentang tujuan
pendidikan Islam. Diantaranya mereka ialah;
1.
Prof.
Saleh Abdul Aziz dan dr. Abdul Aziz Abdul Najid mengatakan, bahwa tujuan
pendidiakan Islam adalah: untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengusahakan
penghidupan.[11]
2.
Menurut
Musthofa Amin bahwa tujuan pendidikan Islam adalah: mempersiapkan seseorang
bagi amalan dunia dan akherat.[12]
3.
Al-Abrasyi
merumuskan tujuan umun pendidikan Islam kedalam 5 pokok yaitu:
a)
Pembentukan
akhlak mulia (al-fadhilat)
b)
Persiapan
untuk kehidupan dunia dan akherat
c)
Persiapan
untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatanya. Keterpaduan
antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
d)
Menumbuhkan
roh ilmiyah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki
kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu.
e)
Mempersiapkan
para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki.[13]
4.
Abdullah
Fahad menyatakan bahwa pendidikan Islam mengarah pada dua tujuan:
a)
Persiapan
untuk hidup akherat
b)
Membentuk
perorangan dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang
kesuksesanya.[14]
Firman Allah
SWT:
Yang
artinya: “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan apa-apa yang
diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading, itulah kesenangan
hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.(QS
Al-Imran:14).
Sabda
Rasulullah SAW:
Yang
artinya: “Bekerjalah untuk urusan dunia seolah-olah engjau ajan hidup
selama-selamnya, dan bekerjalah untuk urusan akherat seolah-olah engkau akan
mati esok hari”. (Al-Hadist).
Ayat
ini menerangkan bahwasannya segala sesuatu yang disenangi manusia dimuka bui
ini seperti wanita, anak-anak dan harta benda hanyalah merupakan penghiasan
dunia yang sifatnya sementara saja. Sedangkan kenikmatan yang sesungguhnya
ialah kenikmatan akherat.
Kalau
kita perhatikan rumusan tujuan yang telah digariskan oleh para ahli didik Islam
tersebut maupun yang telah tertera pada Al-Qur’an dan Al-Hadist nyatalah bahwa
pendidian Islam tersebut bukanlah sekedar mencari kesenangan duniawi atau
materi semata, akan tetapi menyangkut masalah keduniawian dan keukhrawian
secara berimbang. Sikap seorang muslim terhadap kehidupan duniawi dijelaskan
oleh Al-Nadwi: mengenai sikapnya terhadap duniawi adalah sikap dari seorang
yang memandang bukan tujuan terakhir dan tujuan utama, puncak kebahgian dan
kemajuan, ia menganggapnya hanyalah sebagai tahap penyebrangan yang harus
dilalui dan sebagai jalan untuk mencapai keberuntungan terbesar kehidupan abadi
serta kenikmatan yang disenangi.[15]
Tujuan
Pendidikan Islam di Era Globalalisasi
Pendikan
merupakan faktor utama yang dapat dijadikan referensi utama dalam rangka
membentuk generasi yang dipersiapkan untuk mengelola dunia global yang penuh
dengan tantangan. Demikian pula
pendidikan Islam yang bercita-cita membentuk insan kamil yang sesuai dengan
ajaran Al-Qur’an dan sunnah. Secara lebih spesifik pendidikan Islam adalah
pendidikan yang berdasarkan Islam atau sistem pendidikan yang Islami, yakni
pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai fundamental
yang terkandung dalam sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga
pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan
diri dan dibangun dari Al-Qur’an dan Hadits.[16]
Dengan
memperhatikan pendefinisian diatas, pendidikan Islam sebagai upaya
pengejawantahan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa tujuan pendidikan Islam berupaya menjadikan manusia sebagai makhluk
ciptaan Allah SWT yang di berikan kepadanya amanat sebagai ‘abd dan juga menjadi
khalifah di muka bumi. Secara lebih khusus, pendidikan Islam bermaksud untuk:
1.
Memberikan
pengajaran Al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.
2.
Menanamkan
pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang
terwujud dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran tersebut
bersifat abadi.
3.
Memberikan
pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang
jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan yang ada
dalam masyarakat dan dunia.
4.
Menanamkan
pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis iman adalah pendidikan yang tidak
utuh dan pincang.
5.
Menciptakan
generasi yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
6.
Mengembangkan manusia islami yang berkualitas
tinggi yang diakui secara universal.[17]
Pendidikan Islam di zaman ini menghadapi tantangan-tantangan yang
serius untuk tetap eksis di dunia
pendidikan. Adapun tantangannya adalah sebagai berikut: “Pertama, orientasi dan
tujuan pendidikan. Kedua, pengelolaan (manajemen) sistem manajemen ini yang
akan mempengaruhi dan mewarnai keputusan dan kebijakan yang diterapkan dalam
sebuah lembaga pendidikan. Ketiga, hasil (out put). Bagaimana produk yang
dihasilkan dari sebuah lembaga pendidikan bisa dilihat dari kualitas luaran
(out putnya).[18]
Tujuan
Pendidikan Islam Di Indonesia
Pendidikan
Islam di Indonesia haruslah berorientasi kepada tujuan umum pendidikan Islam
sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, akan tetapi disegi lain harus
juga berorientasi kepada tujuan pendidikan Nasional.
Tujuan
pendidikan Nasional dirumuskan dengan mendasarkannya kepada pandangan hidup
bangsa yaitu Pancasila, sehingga diharapkan lembaga pendidikan Islam di
Indonesia dapat melahirkan manusia muslim yang Pancasila.
Pemerintah
Indonesia telah menyusun dan merumuskan tujuan pendidikan yang dapat dijadikan
sebagai arah dalam roses pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di
Indonesia. Tujuan ini digariskan dalam undang-undang No. 12 Tahun 1954.
Undang-undang No. 4 Tahun 1950. Dalam pasal 3 dari undang-undang di atas
dirumuskan tujan pendidikan sebagai berikut.
Tujuan
pendidikan dalam pengajaran ialah menbentuk manusia susila yang cakap dan warga
Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tengtang kesejahtaraan
masyarakat dan tanah air.
Bila
dirinci apa yang tercantum dalam pasal tersebut diatas, maka tujuan yang akan
di capai dalam pendidikan di Indonesia yaitu:
1.
Membentuk
manusia susila yang cakap
2.
Membentuk
warga Negara yang demokratis.
3.
Warga
Negara yang bertanggung jawab tentang kesejahtraan masyarakat dan tanah air.
Didalam
GBHN tahun 1988 tujuan pendidikan dinyatakan sebagai berikut:
Pendididkan
Nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia,
yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti
luhur, berkepribadian, berdisiplin, berkerja keras, tangguh, bertanggung jawab,
mandiri cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Jelas, bahwa dalam
rangka pembinaan manusia seutuhnya unsur iman dan takwa sesuatu yang mutlak
perlu. Tujuan pendidikan Nasional biasanya disusun dalam rumusan yang umum dan
ideal.[19]
Bab III
Penutup
Kesimpulan:
Dari
makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada intinya Tuuan Pendidikan Islam di era
globalisasi adalah pendidikan Islam khususnya di Indonesia harus mampu
menyesuaikan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, dengan
menggabungkan Tujuan pendidikan Nasional dengan mendasarkannya kepada pandangan
hidup bangsa yaitu Pancasila, sehingga diharapkan lembaga pendidikan Islam di
Indonesia dapat melahirkan manusia muslim yang Pancasila. Maka yang harus
dilakukan adalah mengembangkan sistem pendidikan yang berwawasan global agar
menghasilkan out put (lulusan) dari lembaga pendidikan Islam yang lebih
bermutu, supaya mereka percaya diri dalam menghadapi persaingan global.
Melihat
fenomena tersebut, pendidikan adalah faktor yang dapat dijadikan sebagai
jaminan bagi pengembangan sumber daya manusia, sehingga dapat menghadapi
tantangan global dengan era digital informasi. Demikian pula pendidikan Islam,
yang lebih cenderung membawa misi religiulitas pun juga harus ikut berperan di
dalamnya. Dengan membekali para peserta didiknya dengan kekuatan keimanan,
ketakwaan, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang berimbang sehingga dapat
membawa para peserta didik tersebut pada kondisi yang siap menghadapi segala
tantangan era globalisasi.
Daftar Pustaka
·
Ramayulis,
Dr. Prof., Ilmu Pendidikan Islam. (Radar Jaya Offset, penerbit Kalam
Mulia), cetakan 1994.
·
M.A,
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung,
2001).
·
Azra,
Azyumardi. 1995. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium
Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
·
Abudin
Nata, Pendidikan Islam di Era Global, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005
[1]
. A. Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta:
Fajar Dunia, 1999), halaman. 13
[2] . http://blog.uin-malang.ac.id/sarkowi/2010/06/26/reorientasi-pendidikan-islam/Diunduh
pada Rabu, 4 Juli 2012 jam 15.45 WIB.
[3] . Lihat:
Poerwardaminta, WJS., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1976), halaman 250.
[4] . Sudirman,
N., et. a., Ilmu Pendidikan (Bandung: Remaja Karya CV., 1987), halaman 4
[7] .
Shcd Muhammad Al-Naquib Al-Atas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, terjemah
Haidar Bagir, Bandung Mizan, 1984), halaman 66.
[9] . Lihat
Hasan Langulung, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: PT Al-Maarif, 1980), halaman 405-425
[10] .
Fatihah
Hasan Sulaiman, Mazahib fi al-Tarbiyah Bahtsun fi Mazhab al-Tarbiyah Inda
Al-Ghazali, (Mesir maktabah Nahdiyah, 1964), halaman 11.
[11] .
Ibid, halaman 6
[12].
Ibid
[13] .
Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Dar al-Fikr,
tt.), halaman 34
[14] .
Abd, Allah Fayad dalam Abd. Al-Ghoni Abud, Al-fikr at-Tarbawi Inda
Al-Ghazali, (Dar al-Fikr al-Arabi, 1982), halaman 113
[15] .
Abu
Hasan Ali al-Husni al-Nadwi, Peraturan Antara Alam Pikiran Islam Dengan
Pikiran Barat, (Bandung PT. Al-Maarif, 1983), halaman 196.






0 opmerkings:
Plaas 'n opmerking