Woensdag 09 April 2014

Orientasi Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era Globalisasi Pengertian Pendidikan

Kata Pengantar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya berupa rahmat, hidayah, dan inayah-Nya serta kesehatan kepada kepada kita, khususnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Al-Ustadz Dr. M. Miftahul Ulum yang telah membimbing penulis dalam mata perkuliahan  Pemikiran Pendidikan Islam Modern (PPIM). Tidak terlupa, ucapan terima kasih kepada teman-teman Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Semester 6 yang ikut serta menghiasi hari-hari penulis dalam perkuliahan dan memotivasi penulis agar lebih memaknai hidup.

Penulis menyadari sepenuhnya, makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik, saran dan masukan yang konstruktif sangat penulis harapkan dari berbagai kalangan demi perbaikannya ke depan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca, terutama bagi mahasiswa Tarbiyah jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan  bagi penulis, semoga mendapat ridho Allah, sebagai amal shaleh dan menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin


Ponorogo, 12 April 2014
Bab I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Berbicara pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan pandangan dan cita- cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Sejarah pendidikan Indonesia sesungguhnya sangat di warnai oleh peran maupun pengalaman umat Islam dalam menampilkan pendidikannya. Kehadiran organisasi- organisasai Muhammadiyah atau NU selalu menempatkan pendidikan sebagai basis sekaligus motor penggeraknya, Berbagai jenjang pendidikan yang didirikan oleh organisasi Islam tersebut telah memberikan andil besar dan merupakan wujud nyata dari apa yang sekarang diharapkan sebagi usaha menuju “pendidikaan berbasis masyarakat”. (community based education).
Tentu saja semua itu perlu adanya reorientasi, sehingga hasilnya dapat mendukung proses gerakan reformasi menuju Indonesia Baru “masyarakat madani”. Selain bertumpu pada tradisi dan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaannya, juga mampu membuka orientasinya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna mewujudkan suatu peradaban global yang modern dan religious. Berbagai pengalaman menunjukkan bahwa tokoh-tokoh pergerakan Islam yang berkiprah di bidang pendidikan mampu berbuat untuk kemajuan hari depannya. Reorientasi itu memang harus dilaksanakan terus menerus dan berkesinambungan. Karena kalau berhenti berarti mati.
Oleh karena itu pelaku pendidikan Islam dituntut segera melakukan reorientasi. Dalam hal yang bersifat normative filosofis, reorientasi dilakukan dengan cara menguji ulang terhadap nuktah- nuktah ilahiyah dalam Al- Qur’an yang berhubungan dengan persoalan pendidikan seperti tentang manusia, ilmu, nilai yang berhubungan dengan tujuan pendidikan, dan lain sebagainya.[1] Pada sejarah awalnya pendidikan Islam pernah mencapai puncak kejayaannya. Tetapi dalam realitas praktis sekarang, pelaksanaan pendidikan telah berorientasi pada capaian-capaian kebendaan, hedonis, materialistik, sehingga terjadinya kerusakan moral, erosi terhadap nilai-nilai keagamaan sebagai akibat berorientasi pada Barat. Pola hidup seperti ini, tentunya sebuah tantangan berat bagi pendidikan Islam yang berkarakteristik balancing antara kepentingan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, umat Islam masa kini dituntut untuk melakukan gerakan reorientasi pemikiran pendidikan Islam untuk menuju sistem ideal pendidikan Islam sehingga tercapai konseptual pendidikan Islam yang berorientasi pada kebahagian dunia dan akhirat yaitu penggunaan nilai-nilai Islam, sebagai sudut pandang secara menyeluruh mengenai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan gejala-gejala dalam pendidikan Islam dalam rangka menyusun, mengembangkan, menemukan konstruk paradigma pendidikan yang berangkat dari pandangan-pandangan dunia Islam.[2]
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini yaitu; bagaimana Orientasi Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era Globalisasi
C.     Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulis makalah ini adalah untuk mengetahui Orientasi Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era Globalisasi

Bab II
Pembahasan
Orientasi Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia Memasuki Era Globalisasi
Pengertian Pendidikan
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan memberinya awalan “pe” dan akhirnya “kan”, mengandung arti “perbuatan” (hal, cara dan sebagainya).[3] Istilah pendidian ini berasal dari bahasa yunani, yaitu “paedagogie”, yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian di terjemahkan kedalam bahasa inggris dengan “education” yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa arab istilah ini sering di terjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti pendidikan.
Dalam perkembangan istilah pendidikan berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhdap anak didik oleh orang dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan kehidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.[4]

Pengertian Globalisasi
Menurut wikipedia, “kata globalisasi di ambil dari kata global yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan kecuali sekitar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.[5] Dari perbedaan orang-orang memandang globalisasi maka muncullah masyarakat yang menerima globalisasi (masyarakat pro-globalisasi) dan masyarakat yang menolak globalisasi (masyarakat anti globalisasi).
Setiap manusia tidak bisa terhindar dari arus globalisasi ini, kecuali dia tidak menjalin kontak dengan orang lain, tidak melihat acara-acara di televisi, tidak mendengarkan radio, dan dia hidup dengan apa adanya. Namun, hanya segelintir manusia bisa melakukan hal seperti itu karena manusia mempunyai sifat makhluk sosial yaitu selalu membutuhkan orang lain.
Globalisasi berawal dari transportasi dan komunikasi. Tetapi dampaknya segera terasa dalam berbagai bidang kehidupan manusia baik ekonomi, politik, perdagangan, gaya hidup, bahkan agama”.[6]  Begitu cepat masyarakat mengikuti perkembangan zaman, mereka tidak mau ketinggalan sedikitpun dari perkembangan ini. Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

Pengertian Pendidikan Islam
Didalam Islam ada dua istilah yang di pakai untuk pendidikan yaitu “tarbiyah” dan “ta’dib”, kedua istilah ini mempunyai perbedaan yang mencolok.
Menurut Naquib al-Atas tarbiyah secara semantic tidak khusus  ditunjukan untuk mendidik manusia, tetapi dapat ditunjukan kepada sepsies lain, seperti mineral, tanaman dan hewan. Selain itu tarbiyah berkonotasi material; ia mengandung arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memilihara, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakan. [7]
Adapun ta’dib mengacu kepada engertian “ilm”, pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Dari itu ta’dib merupakan istilah yang paling cepat dan cermat untuk menunjukan pendidikan dalam islam.[8] Nampaknya Naquib melihat ta’dib sebagai sebuah system pendidikan islam yang di dalamnya ada tiga sub system, yaitu pengetahuan, pengajaran dan pengasuhan (tarbiyah). Jadi tarbiyah dalam konsep Naquib ini hanya satu sub system dari ta’dib.

Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Syaibany ada tiga macam tahap tujuan pendidikan, yaitu:
1.      Tujuan tertinggi atau terakhir yaitu tujuan yang tidak diatasi oleh tujuan lain, sekalipun bertingkat-tingkat dibawah tujuan lain yang kurang dekat dan kurang umum daripadanya.
2.      Tujuan ‘am atau tujuan umum yaitu perubahan-perubahan yang dikehendaki yang diusahakan untuk mencapainya.
3.      Tujan khas atau khusus yaitu perubahan-perubahan yang diinginkan yang bersifat cabang atau bagian-bagian yang termasuk dibawah tiap-tiap tujuan pendidikan.[9]

Pendidiakan Islam juga mempunya tujuan yang terdiri sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang di gariskan Al-Qur’an.
Ibnu Khodun menyatakan bahwa tujuan pendidikan islam mempunyai dua tujuan, yaitu:
1.      Tujuan keagamaan, maksudnya ialah beramal untuk akherat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan keatasnya.
2.      Tujuan ilmiyah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemamfaatan atau periapan untuk hidup.

Selanjutnya Al-Ghozali berpendapat bahwa tujuan pendidikan islam yang paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akherat. [10]
Selain dari pandangan yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghozali dan Ibnu Khaldun tentang tujuan pendidikan Islam, terdapat para cendikiawan Islam dan ahli-ahli pendidikan Islam yang lain membuat rumusan merekan masing-masing tentang tujuan pendidikan Islam. Diantaranya mereka ialah;

1.      Prof. Saleh Abdul Aziz dan dr. Abdul Aziz Abdul Najid mengatakan, bahwa tujuan pendidiakan Islam adalah: untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mengusahakan penghidupan.[11]
2.      Menurut Musthofa Amin bahwa tujuan pendidikan Islam adalah: mempersiapkan seseorang bagi amalan dunia dan akherat.[12]
3.      Al-Abrasyi merumuskan tujuan umun pendidikan Islam kedalam 5 pokok yaitu:
a)      Pembentukan akhlak mulia (al-fadhilat)
b)      Persiapan untuk kehidupan dunia dan akherat
c)      Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatanya. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
d)     Menumbuhkan roh ilmiyah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu.
e)      Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki.[13]
4.      Abdullah Fahad menyatakan bahwa pendidikan Islam mengarah pada dua tujuan:
a)      Persiapan untuk hidup akherat
b)      Membentuk perorangan dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesanya.[14]

Firman Allah SWT:
Yang artinya: “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading, itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.(QS Al-Imran:14).

Sabda Rasulullah SAW:
Yang artinya: “Bekerjalah untuk urusan dunia seolah-olah engjau ajan hidup selama-selamnya, dan bekerjalah untuk urusan akherat seolah-olah engkau akan mati esok hari”. (Al-Hadist).
Ayat ini menerangkan bahwasannya segala sesuatu yang disenangi manusia dimuka bui ini seperti wanita, anak-anak dan harta benda hanyalah merupakan penghiasan dunia yang sifatnya sementara saja. Sedangkan kenikmatan yang sesungguhnya ialah kenikmatan akherat.
Kalau kita perhatikan rumusan tujuan yang telah digariskan oleh para ahli didik Islam tersebut maupun yang telah tertera pada Al-Qur’an dan Al-Hadist nyatalah bahwa pendidian Islam tersebut bukanlah sekedar mencari kesenangan duniawi atau materi semata, akan tetapi menyangkut masalah keduniawian dan keukhrawian secara berimbang. Sikap seorang muslim terhadap kehidupan duniawi dijelaskan oleh Al-Nadwi: mengenai sikapnya terhadap duniawi adalah sikap dari seorang yang memandang bukan tujuan terakhir dan tujuan utama, puncak kebahgian dan kemajuan, ia menganggapnya hanyalah sebagai tahap penyebrangan yang harus dilalui dan sebagai jalan untuk mencapai keberuntungan terbesar kehidupan abadi serta kenikmatan yang disenangi.[15]

Tujuan Pendidikan Islam di Era Globalalisasi
Pendikan merupakan faktor utama yang dapat dijadikan referensi utama dalam rangka membentuk generasi yang dipersiapkan untuk mengelola dunia global yang penuh dengan tantangan.  Demikian pula pendidikan Islam yang bercita-cita membentuk insan kamil yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan sunnah. Secara lebih spesifik pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan Islam atau sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai fundamental yang terkandung dalam sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Sehingga pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan diri dan dibangun dari Al-Qur’an dan Hadits.[16]
Dengan memperhatikan pendefinisian diatas, pendidikan Islam sebagai upaya pengejawantahan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam berupaya menjadikan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang di berikan kepadanya amanat sebagai ‘abd dan juga menjadi khalifah di muka bumi. Secara lebih khusus, pendidikan Islam bermaksud untuk:
1.      Memberikan pengajaran Al-Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.
2.      Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan bahwa ajaran-ajaran tersebut bersifat abadi.
3.      Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan yang ada dalam masyarakat dan dunia.
4.      Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis iman adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.
5.      Menciptakan generasi yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
6.       Mengembangkan manusia islami yang berkualitas tinggi yang diakui secara universal.[17]

Pendidikan Islam di zaman ini menghadapi tantangan-tantangan yang serius untuk  tetap eksis di dunia pendidikan. Adapun tantangannya adalah sebagai berikut: “Pertama, orientasi dan tujuan pendidikan. Kedua, pengelolaan (manajemen) sistem manajemen ini yang akan mempengaruhi dan mewarnai keputusan dan kebijakan yang diterapkan dalam sebuah lembaga pendidikan. Ketiga, hasil (out put). Bagaimana produk yang dihasilkan dari sebuah lembaga pendidikan bisa dilihat dari kualitas luaran (out putnya).[18]

Tujuan Pendidikan Islam Di Indonesia
Pendidikan Islam di Indonesia haruslah berorientasi kepada tujuan umum pendidikan Islam sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, akan tetapi disegi lain harus juga berorientasi kepada tujuan pendidikan Nasional.
Tujuan pendidikan Nasional dirumuskan dengan mendasarkannya kepada pandangan hidup bangsa yaitu Pancasila, sehingga diharapkan lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat melahirkan manusia muslim yang Pancasila.
Pemerintah Indonesia telah menyusun dan merumuskan tujuan pendidikan yang dapat dijadikan sebagai arah dalam roses pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia. Tujuan ini digariskan dalam undang-undang No. 12 Tahun 1954. Undang-undang No. 4 Tahun 1950. Dalam pasal 3 dari undang-undang di atas dirumuskan tujan pendidikan sebagai berikut.
Tujuan pendidikan dalam pengajaran ialah menbentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab tengtang kesejahtaraan masyarakat dan tanah air.
Bila dirinci apa yang tercantum dalam pasal tersebut diatas, maka tujuan yang akan di capai dalam pendidikan di Indonesia yaitu:
1.      Membentuk manusia susila yang cakap
2.      Membentuk warga Negara yang demokratis.
3.      Warga Negara yang bertanggung jawab tentang kesejahtraan masyarakat dan tanah air.

Didalam GBHN tahun 1988 tujuan pendidikan dinyatakan sebagai berikut:
Pendididkan Nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia, yaitu manusia yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, berkerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Jelas, bahwa dalam rangka pembinaan manusia seutuhnya unsur iman dan takwa sesuatu yang mutlak perlu. Tujuan pendidikan Nasional biasanya disusun dalam rumusan yang umum dan ideal.[19]










Bab III
Penutup
Kesimpulan:
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada intinya Tuuan Pendidikan Islam di era globalisasi adalah pendidikan Islam khususnya di Indonesia harus mampu menyesuaikan perkembangan zaman dan perkembangan teknologi, dengan menggabungkan Tujuan pendidikan Nasional dengan mendasarkannya kepada pandangan hidup bangsa yaitu Pancasila, sehingga diharapkan lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat melahirkan manusia muslim yang Pancasila. Maka yang harus dilakukan adalah mengembangkan sistem pendidikan yang berwawasan global agar menghasilkan out put (lulusan) dari lembaga pendidikan Islam yang lebih bermutu, supaya mereka percaya diri dalam menghadapi persaingan global.
Melihat fenomena tersebut, pendidikan adalah faktor yang dapat dijadikan sebagai jaminan bagi pengembangan sumber daya manusia, sehingga dapat menghadapi tantangan global dengan era digital informasi. Demikian pula pendidikan Islam, yang lebih cenderung membawa misi religiulitas pun juga harus ikut berperan di dalamnya. Dengan membekali para peserta didiknya dengan kekuatan keimanan, ketakwaan, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan yang berimbang sehingga dapat membawa para peserta didik tersebut pada kondisi yang siap menghadapi segala tantangan era globalisasi.

Daftar Pustaka
·         Ramayulis, Dr. Prof., Ilmu Pendidikan Islam. (Radar Jaya Offset, penerbit Kalam Mulia), cetakan 1994.
·         M.A, Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001).
·         Azra, Azyumardi. 1995. Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
·         Abudin Nata, Pendidikan Islam di Era Global, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005










[1] . A. Malik Fadjar, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Fajar Dunia, 1999), halaman. 13
[2] . http://blog.uin-malang.ac.id/sarkowi/2010/06/26/reorientasi-pendidikan-islam/Diunduh pada Rabu, 4 Juli 2012 jam 15.45 WIB.
[3] . Lihat: Poerwardaminta, WJS., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), halaman 250.
[4] . Sudirman, N., et. a., Ilmu Pendidikan (Bandung: Remaja Karya CV., 1987), halaman 4
[5] . http://id.wikipedia.org/wiki/globalisasi
[6] . Tim Penyusun. 2009. Pengantar Studi Islam. (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press). hlm. 233.
[7] . Shcd Muhammad Al-Naquib Al-Atas, Konsep Pendidikan Dalam Islam, terjemah Haidar Bagir, Bandung Mizan, 1984), halaman 66.
[8] . Lihat: Ibid., halaman 74-75
[9] . Lihat Hasan Langulung, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam, (Bandung: PT  Al-Maarif, 1980), halaman 405-425
[10] . Fatihah Hasan Sulaiman, Mazahib fi al-Tarbiyah Bahtsun fi Mazhab al-Tarbiyah Inda Al-Ghazali, (Mesir maktabah Nahdiyah, 1964), halaman 11.
[11] . Ibid, halaman 6
[12]. Ibid
[13] . Muhammad Athiyah Al-Abrasyi, al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Dar al-Fikr, tt.), halaman 34
[14] . Abd, Allah Fayad dalam Abd. Al-Ghoni Abud, Al-fikr at-Tarbawi Inda Al-Ghazali, (Dar al-Fikr al-Arabi, 1982), halaman 113
[15] . Abu Hasan Ali al-Husni al-Nadwi, Peraturan Antara Alam Pikiran Islam Dengan Pikiran Barat, (Bandung PT. Al-Maarif, 1983), halaman 196.
[16]. Muhaimin, 2006:4
[17] . Wahid, 2009:11
[18] . Ibid. halaman. 104-105.
[19] . Ag. Sujono, Pendahuluan Pendidikan Umum, (Bandung: CV. Bina Ilmu, tt.) halaman 16

0 opmerkings:

Plaas 'n opmerking